Upacara
Kenduri Sko merupakan upacara adat
yang dilakukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang telah
didapat masyarakat. Di dalamnya juga terdapat acara penurunan dan pembersihan
pusaka nenek moyang serta pengangkatan para pemimpin adat. Pelaksanaan Kenduri Sko ini digelar dengan waktu
yang berbeda oleh setiap masyarakat yang berada dalam kelurahan tertentu di Kabupaten
Kerinci. Pada 23 Juni 2013, penulis berkesempatan melihat langsung prosesi
upacara di Kelurahan Koto Renah. Acara ini melibatkan seluruh anggota
masyarakat—termasuk penulis sebagai anggota masyarakat Koto Renah. Persiapan
acara sudah dilakukan sejak berbulan-bulan sebelumnya, yakni mempersiapkan
bahan lemang (makanan khas terbuat
dari ketan yang dibakar di dalam bambu), persiapan sesajian untuk ritual
menghormati leluhur, persiapan tari-tarian, persiapan nyanyi-nyanyian sakral,
dekorasi Umah Gedang (rumah adat), persiapan ninik
mamak dan lembaga adat, persiapan pencak silat dan pantun sebagai ciri khas
budaya Melayu, serta persiapan pentas atau panggung di sepanjang jalan
kelurahan Koto Renah. Upacara ini memakan biaya yang cukup besar, biasanya dikumpulkan
dari hasil sumbangan seluruh anggota masyarakat.
Setelah persiapan upacara cukup, acara puncak dilakukan semalam suntuk pada tanggal 22 Juni 2013 hingga sore hari tanggal 23 Juni 2013. Pada malam hari (22 Juni 2013), digelar tari-tarian dan nyanyian sakral. Di Umah Gedang telah tersaji berbagai macam bentuk sesajian untuk menghormati roh leluhur. Sesajian itu terdiri atas lemang, nasi ibek (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), telur rebus yang diletakkan di atas nasi ibek, kemenyan, wewangian bunga mawar-melati, limau puhauk (jeruk purut), pisang, dan beraneka lauk-pauk yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Pada malam ini pula diturunkan benda-benda pusaka untuk dimandikan dengan air suci. Oleh para sesepuh adat, benda-benda pusaka itu dibuka satu persatu, dibersihkan dan dipertontonkan kepada masyarakat sambil menceritakan asal usul sejarahnya. Acara dilanjutkan dengan tarian dan nyanyian sakral yang sarat dengan unsur magis. Di dalam proses ini, ada seorang pemimpin yang disebut dengan Ninek Ngah. Ninek Ngah merupakan gelar yang diberikan oleh adat bagi seseorang yang tahu dengan jelas seluk-beluk Kenduri Sko, biasanya ia adalah wanita yang dituakan di kampung. Ninek Ngah mempunyai kemampuan menari dan menyanyi yang tinggi, serta memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan roh nenek moyang. Menurut kepercayaan setempat, upacara tarian dan nyanyian ini diakhiri dengan kesurupan Ninek Ngah berikut juga dialami oleh kebanyakan penonton yang memiliki hubungan batin yang kuat dengan leluhurnya.
Setelah persiapan upacara cukup, acara puncak dilakukan semalam suntuk pada tanggal 22 Juni 2013 hingga sore hari tanggal 23 Juni 2013. Pada malam hari (22 Juni 2013), digelar tari-tarian dan nyanyian sakral. Di Umah Gedang telah tersaji berbagai macam bentuk sesajian untuk menghormati roh leluhur. Sesajian itu terdiri atas lemang, nasi ibek (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), telur rebus yang diletakkan di atas nasi ibek, kemenyan, wewangian bunga mawar-melati, limau puhauk (jeruk purut), pisang, dan beraneka lauk-pauk yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Pada malam ini pula diturunkan benda-benda pusaka untuk dimandikan dengan air suci. Oleh para sesepuh adat, benda-benda pusaka itu dibuka satu persatu, dibersihkan dan dipertontonkan kepada masyarakat sambil menceritakan asal usul sejarahnya. Acara dilanjutkan dengan tarian dan nyanyian sakral yang sarat dengan unsur magis. Di dalam proses ini, ada seorang pemimpin yang disebut dengan Ninek Ngah. Ninek Ngah merupakan gelar yang diberikan oleh adat bagi seseorang yang tahu dengan jelas seluk-beluk Kenduri Sko, biasanya ia adalah wanita yang dituakan di kampung. Ninek Ngah mempunyai kemampuan menari dan menyanyi yang tinggi, serta memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan roh nenek moyang. Menurut kepercayaan setempat, upacara tarian dan nyanyian ini diakhiri dengan kesurupan Ninek Ngah berikut juga dialami oleh kebanyakan penonton yang memiliki hubungan batin yang kuat dengan leluhurnya.
sesajian untuk roh nenek moyang
pemandian pusaka
penonton seluruh warga desa
Ninek Ngah mengenakan baju hijau
salah satu warga yang kesurupan
Pada
malam puncak, tidak henti-hentinya Ninek
Ngah menyanyikan lagu sambil menari mengelilingi sesajian inti. Lagu-lagu
yang dinyanyikan bervariasi, mulai dari lagu-lagu daerah, lagu-lagu pemujaan,
hingga mantra-mantra yang maknanya kebanyakan tidak diketahui oleh masyarakat
setempat. Mantra itu tidak dinyanyikan dengan bahasa daerah, tetapi dengan
bahasa Melayu Kuna yang sulit ditangkap bunyinya bagi orang yang tidak biasa
mendengar. Oleh karena itu, penulis tidak dapat menulis ulang mantra yang
dinyanyikan tersebut. Namun, ada beberapa lagu daerah yang berhasil penulis
rekam. Berikut bunyinya:
Lagu 1: Aeh guru kanti sijalan
aeh tuan kanti sidirin
belum jatuh ku sambutlah
maih aman maih ku sambut
kusambut munjari aluh
kujawat dengan lidah mimpi
dapat ari simalam ini
kito nak aseak mamintak
mintak lamat pengaruh abu
mintak lamat pengaruh umah
Lagu
2: Dangealah kamai ae
Ranok janton dibutino haiala
Tuhang kasawoh
Ala yamulae, ranok janton
dibutino
Ala yamulae
Mahai dibusamo ae
Dimumbangun Kincai haiala
Duseunglah kito
Ala yamulae, ranok janton
dibutino
Ala yamulae
Pada saat menyanyikan lagu-lagu daerah
ini, ada iringan musik yang terdiri atas gendang dan rebana. Pemain musik
menggunakan baju adat lengkap, yakni pakaian lita berwarna hitam berbenang emas. Beberapa orang Ninik Mamak melakukan penghormatan
terhadap leluhur sambil membaca doa.
Ninik Mamak mengucapkan syukur
pemain musik mengenakan baju
adat lengkap
Untuk
mengangkat Permanti dan Mangku harus memotong kambing satu ekor dan
menghanguskan beras dua puluh gantang. Hewan yang dipotong seperti kerbau,
kambing dimasak menjadi gulai. Beras dimasak menjadi nasi dan dibungkus dengan
daun pisang dan dibentuk segi empat (dalam bahasa kerinci disebut nasi ibat).
Semuanya dihidangkan untuk dimakan bersama-sama (kenduri).
Prosesi
Kenduri Sko dilingkup wilayah Depati nan Bertujuh Sungai Penuh dilaksanakan
sesuai adat istiadat yang berlaku. Adat
yang bersendi syarak – syarak bersendi kitabullah. Adat lamo pusako usang yang
tidak lapuk kena hujan – tidak lekang kena panas sejak dahulu sampai sekarang.
Setiap tahapan prosesi yang dilaksanakan mempunyai nilai-nilai yang sakral.
penonton acara
Pada
pukul 08.00 di tanggal 23 Juni 2013, semua masyarakat berkumpul di Umah Gedang untuk mempersiapkan
perhelatan akhir. Perhelatan ini dihadiri oleh Walikota Sungai Penuh beserta
wakil, para pejabat daerah, tamu undangan, kaum cerdik pandai, serta masyarakat
dari berbagai kelurahan. Pada hari itu, acara-acara berunsur mistis tidak perlu
ditampilkan lagi, tetapi lebih menekankan unsur seni hiburan. Adapun rangkaian
acaranya adalah pencak silat, tari persembahan, tari massal, dsb. Pencak Silat
adalah seni bela diri dengan menggunakan dua mata pedang. Pencak silat ini
dimainkan oleh sepasang anak jantan yang masing-masing memegang satu pedang.
Mereka mempertontonkan keahlian bermain senjata tajam.
pertunjukan pencak silat
Tari Persembahan, Tari Persembahan adalah tari untuk menyerahkan sekapur sirih kepada para petinggi-petinggi daerah yang hadir, Depati nan Bertujuh, Permanti nan Sepuluh, Mangku nan Baduo serta Ngabi Teh Santio. Selain itu, sirih juga diserahkan kepada calon Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku yang akan dinobatkan menjadi pemangku adat yang baru.
Tari Persembahan
Tari
Massal merupakan tarian yang ditata sedemikian rupa dan khusus dipergelarkan
untuk acara-acara helatan besar. Tarian ini ditata dengan konfigurasi
menggambarkan keadaan geografis Kerinci yang berbentuk kawah (landai). Gerakan
yang ditarikan merupakan gerak-gerak tari tradisional Kerinci, seperti Tari
Rangguk dan
Tari Iyao-yao. Tari Rangguk merupakan tarian daerah Kerinci yang populer.
Tarian ini ditarikan oleh beberapa gadis remaja sambil memukul rebana kecil.
Tarian ini diiringi dengan nyanyian sambil mengangguk-anggukkan kepala seakan
memberikan hormat. Tari Rangguk dilakukan pada acara-acara tertentu seperti
menerima kedatangan Depati (tokoh
adat Kerinci), tamu dan para pembesar dari luar daerah.
Tari Rangguk
Tari Massal
Adapun
perlengkapan acara meliputi taruk berukuran besar, umbul-umbul atau bendera
berwarna-warni disekitar tempat upacara, bendera merah putih berbentuk segitiga
siku-siku berukuran besar (dalam bahasa daerah bendera ini disebut dengan karamtang). Karamtang ini dipasang di tempat terbuka pada ketinggian mencapai
30 meter. Pada bagian puncaknya digantungkan tanduk kerbau. Bendera ini
merupakan sebuah isyarat tentang adanya Kenduri
Sko sekaligus menjadi undangan bagi masyarakat banyak untuk datang
menghadiri upara yang sakral itu. Pakaian adat, keris, dan tongkat dipakai oleh
para pemangku adat. Pakaian lita dan kulok, pedang untuk keperluan pencak
silat, sesajian berupa beras kuning, kemenyan, dan adonan sirih nan sekapur –
rokok nan sebatang, gong, gendang, dan rebana untuk keperluan kesenian daerah
yang akan ditampilkan dalam rangkaian prosesi upacara. Adapun personal yang
terlibat dalam prosesi upacara adat Kenduri Sko ini adalah, sebagai berikut:
- Seluruh pemangku adat (Depati-Ninik Mamak) yang ada dalam wilayah Depati Nan Bertujuh Kelurahan Koto Renah.
- Para calon (anak jantan) yang akan dinobatkan menjadi Depati dan Permanti yang baru.
Supaya adat tetap dapat
dilestarikan, maka calon pemangku adat yang akan dinobatkan harus memenuhi
kriteria. Menurut salah seorang narasumber yang penulis wawancara, yaitu Bapak
Arifin Rio, 56 tahun (mantan Kepala Desa Koto Renah sekaligus pemangku adat
bergelar Rio Pemangku Luhah nan Telintoa),
bahwa pemangku adat dipilih dari seseorang yang ada warisnya, yakni berkubur berpendam, bertampang berturai, adat
bersendi alur – alur bersendi patut, patut
bersendi dengan benar atau menurut
pepatah adat dikatakan:
1. Simba ikou (orang yang
ekonominya bagus)
2. Tajeng taji (berani karena
benar, berwibawa dan berwatak pemimpin)
3. Nyarain kukouk (bijaksana,
pandai menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat)
4. Anak jantan dan anak batino dalam wilayah Koto Renah
5. Para undangan (pejabat pemerintah setempat)
keramtang
Pada
saat penobatan gelar, seluruh calon Depati
dan Ngabi memakai pakaian adat
berwarna hitam dan berbenang emas. Di pinggang sebelah kanan diselipkan sebilah
keris. Untuk calon Permanti dan Mangku juga memakai pakaian adat dan
sebuah tongkat yang terbuat dari kayu pacat. Calon Depati baru dipanggil naik ke pentas secara bergantian lima orang,
kemudian disebutkan namanya satu per satu sambil dibacakan Gelar Sko yang akan dijabatnya. Selesai penobatan, seluruh Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku berdiri untuk diadakan
pengambilan sumpah dengan membacakan Parbayo
(sumpah). Sumpah itu benar-benar menjadi sikap, perilaku, dan pola pikir seorang
pemimpin adat. Hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam
setiap butir sumpah, di mana seorang Depati
diharapkan tidak menggunting dalam lipatan atau mencari kesempatan dalam
kesempitan. Kemudian tidak membuat fitnah dan hasutan, tidak bisa berbuat lain
di mulut lain di hati. Tidak boleh menghadapi orang dari belakang dan
diharapkan dapat menuntun para pemimpin adat agar tidak menghindar dari masalah
sebab seorang pemimpin harus mampu menyelesaikan semua masalah yang dihadapi
rakyatnya. Apabila Pemangku Adat melanggar sumpah itu atau tidak menjalankan
tugas dan kewajibannya, maka akan dikutuk Sumpah
Karang Satio nan Semangkok.
Ka dateh, ideak bapucok,
Ke
atas tidak akan berpucuk,
ka bawoah ideak baurek,
ke
bawah tidak akan berurat,
di tangoh-tangoh dijarum kumban,
tengah-tengah
dijarum kumbang.
Padoi ditanang, ilalan nan tumboh,
Padi
ditanam, ilalang yang tumbuh,
kunyaik ditanang puteh isoinyo.
kunyit
ditanam putih isinya.
Ikang dipanggan, tinggalah tulan,
Ikan
dipanggang tinggal tulang,
anak dipangkeu, munjadi bateu.
anak
dipangku menjadi batu.
Pemberian
gelar adat pada salah
seorang Depati
Para pemangku adat di atas panggung
Dari
semua proses yang dilakukan dalam upacara Kenduri Sko—mulai persiapan hingga puncak
acara—tampaklah nilai-nilai yang terkandung di dalam upacara ini. Upacara panen
yang sarat dengan unsur kepercayaan, magis, adat, budaya, seni, serta hiburan
ini telah menjadi tradisi turun-temurun oleh masyarakat di Kabupaten Kerinci
dan Kota Sungai Penuh. Persiapan yang matang dan biaya yang besar menunjukkan
loyalitas masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut. Kesenian dan
hiburan menampilkan ciri khas masyarakat yang kental dengan budaya lisan dan
gerak tubuh. Hal ini terbukti dengan adanya berbalas pantun, pembacaan mantra,
menyanyikan lagu daerah, serta tari-tarian kegembiraan sebagai wujud rasa
syukur terhadap hasil panen.
Penulis: Ria M. S.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar